Pasang Iklan Grais

Trauma tragedi Ermanto Usman, warga Jatibening ramai-ramai pasang CCTV dan lampu sorot

 Rumah dua lantai bercat putih itu tampak megah di sudut Perumahan Prima Lingkar Asri, Jatibening, Kota Bekasi, Jawa Barat. Namun, kemewahan dinding granit dan kanopi kaca tempered itu kini diselimuti keheningan mencekam.

Di balik pagar abu-abu metalik, dua unit mobil mewah—Honda CRV Prestige hitam dan Wuling BinguoEV krem—masih terparkir kaku.

Keduanya menjadi saksi bisu tragedi berdarah yang menimpa sang pemilik, Ermanto Usman (65), pada Senin subuh (2/3/2026).

Pantauan Tribunnews.com di lokasi pada Senin (9/3/2026), suasana rumah mendiang Ermanto Usman tampak sepi tak berpenghuni. 

Kontras dengan kesunyiannya, seluruh lampu di kediaman almarhum masih dibiarkan menyala, seolah menolak redup meski sang empunya rumah telah tiada.

Misteri Motif: Mobil Mewah Utuh, Kunci & STNK Raib

Kematian Ermanto menyisakan tanda tanya besar yang melampaui dugaan perampokan biasa. Meski perhiasan gelang emas raib, pelaku nyatanya membiarkan dua mobil mewah di garasi tetap utuh.

Anehnya, pelaku justru menggondol kunci dan STNK kedua mobil tersebut—sebuah tindakan yang tidak lazim bagi kriminal amatir.

Latar belakang Ermanto sebagai aktivis pelabuhan vokal kian mempertebal misteri.

Beberapa bulan sebelum tragedi, sosok yang akrab disapa Pak Haji ini sempat muncul di kanal YouTube Forum Keadilan TV. 

Ia secara frontal mengungkap dugaan korupsi di PT Pelindo II yang ditaksir merugikan negara hingga Rp4,08 triliun.

Vokalitasnya dalam isu korupsi kelas kakap ini memicu spekulasi: apakah tragedi ini murni perampokan, atau sebuah aksi terencana yang sengaja disamarkan?

"Wasiat" Tembok dan Celah Maut Tol Becakayu

Kematian Ermanto menjadi tamparan keras bagi warga kompleks.

Sebagai sosok kritis, ia berulang kali mengingatkan pengurus RT mengenai celah pada tembok pembatas kompleks yang rendah dan berlubang—tepat di seberang rumahnya.

Titik itu dinilai sebagai "zona merah" karena berbatasan langsung dengan lahan kosong bersemak serta akses terbuka Tol Becakayu dan Jalan Raya Kalimalang, yang memudahkan pelaku kriminal menyusup maupun melarikan diri.

"Pak Ermanto itu 'wasiatnya' cuma satu: kenapa tembok ini tidak ditinggikan? Beliau sudah lapor berkali-kali, akhirnya justru dia sendiri yang jadi korban," ujar Silvi (nama disamarkan), tetangga korban dengan nada getir.

Kini, sejumlah kuli bangunan tampak sibuk meninggikan tembok tersebut—sebuah realisasi yang datang terlambat.

Warga Jatibening Siaga: Patungan Lampu dan CCTV

Ketakutan massal kini menghantui warga Prima Lingkar Asri.

Lokasi blok yang berada di pojok dan minim penerangan membuat warga merasa sangat lengah selama ini.

"Sejak kejadian ini kita jadi takut. Makanya kemarin kita patungan pasang lampu jalan. Saya juga nambah CCTV dan lampu sorot di rumah," ungkap Silvi.

Ketua RT setempat, Dota, mengonfirmasi pengamanan gerbang utama kini diperketat dengan sistem wajib titip KTP.

"Kita berlakukan lagi pengamanan ketat. Warga sangat khawatir karena selama ini mereka merasa aman-aman saja," kata Dota.

Tim Gabungan Bareskrim Bekuk Pelaku

Tragedi ini pertama kali pecah saat anak bungsu korban terbangun menjelang imsak untuk persiapan sahur, sekira pukul 04.00 WIB.

Setelah pintu kamar didobrak lewat jendela yang dipecah warga, Ermanto ditemukan tewas dengan muka lebam dan bersimbah darah di atas kasur.

Sementara istrinya, Pasmilawati (60), kritis akibat hantaman benda tumpul di kepala.

Setelah sepekan penyelidikan intensif, Tim Gabungan Polda Metro Jaya dan Bareskrim Polri akhirnya berhasil membekuk terduga pelaku pada Selasa (10/3/2026).

Keterlibatan tim elit Bareskrim menunjukkan bobot kasus ini yang menjadi atensi serius kepolisian.

"Benar (sudah ditangkap)," singkat Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya, AKBP Abdul Rahim.

Polisi kini tengah mendalami motif pembunuhan berencana di balik "hajar" maut yang menimpa sang aktivis pelabuhan tersebut.

Kini, blok pojok Jatibening tak lagi gelap seiring langkah warga yang ramai-ramai memasang CCTV dan lampu sorot demi menjaga 'wasiat' terakhir Ermanto Usman. Di balik tembok yang mulai menjulang tinggi, warga kini hanya bisa menanti keadilan sembari mendoakan kesembuhan sang istri yang masih berjuang di ruang ICU

0 Response to "Trauma tragedi Ermanto Usman, warga Jatibening ramai-ramai pasang CCTV dan lampu sorot"

Posting Komentar