Tak sejalan dengan Trump, Wapres AS JD Vance tolak dukung Netanyahu dalam pemilu Israel mendatang
Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menolak mendukung Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam pemilu mendatang.
“Saya tidak akan terlibat dalam pemilihan Israel,” kata Vance dalam sebuah wawancara, Senin (19/10/2026) waktu setempat, dikutip dari NBC News.
“Saya tidak menentang dukungan terhadapnya, tetapi saya juga tidak mendukungnya,” tambah Vance.
Sehari sebelumnya, Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyatakan dukungannya kepada Netanyahu.
“Jika Israel memiliki pemimpin yang salah, siapa pun selain Bibi, Amerika harus melakukan pekerjaan ini sendiri, dan saya tidak cenderung melakukannya,” tulis Trump di Truth Social.
“Bibi Netanyahu telah kuat, berani, dan brilian dalam menghadapi oposisi yang luar biasa, termasuk yang datang dari Israel sendiri.”
Sementara itu, Vance mengakui bahwa Trump memiliki dukungan paling efektif dalam sejarah politik Amerika maupun internasional.
Ia lebih lanjut membela keputusannya untuk tidak terlibat dalam pemilu Israel dengan mengatakan bahwa dirinya berfokus mendukung kandidat Amerika.
“Itulah yang saya fokuskan,” ujarnya.
Sebagai informasi, Vance melakukan perjalanan ke Hongaria tahun ini untuk berkampanye bagi Perdana Menteri Viktor Orban, yang digulingkan dari kekuasaan pada April setelah 16 tahun menjabat.
Vance juga kembali menegaskan pada Senin bahwa ia belum memutuskan apakah akan mencalonkan diri sebagai presiden pada 2028.
Namun, jika memutuskan untuk maju, Vance memperkirakan Trump akan mendukungnya.
“Saya benar-benar belum memutuskan apa yang akan saya lakukan pada 2028. Saya belum fokus pada hal itu,” kata Vance.
“Saya pikir jika saya mencalonkan diri, presiden akan langsung mendukung saya sejak awal.”
Pemilu Israel
Mengutip Associated Press, warga Israel akan menggelar pemilu pada 27 Oktober 2026.
Warga Israel memilih partai, bukan kandidat secara langsung.
Partai-partai tersebut kemudian membentuk aliansi untuk membangun koalisi mayoritas.
Selama 78 tahun sejarah Israel, tidak ada satu partai pun yang berhasil memenangkan mayoritas kursi di parlemen yang beranggotakan 120 orang, atau Knesset.
Kondisi ini memberikan pengaruh besar kepada partai-partai kecil dalam upaya membentuk koalisi yang menguasai setidaknya 61 kursi.
Partai-partai harus memperoleh sedikitnya 3,25 persen suara untuk mendapatkan kursi di Knesset.
Netanyahu merupakan perdana menteri Israel yang paling lama menjabat, dengan total masa jabatan lebih dari 18 tahun dalam tiga periode terpisah.
Israel tidak memiliki batasan masa jabatan perdana menteri.
Lawan-lawan Netanyahu mendesak para pemilih untuk menolak masa jabatan berikutnya.
Mereka berpendapat bahwa kegagalan Netanyahu menyebabkan serangan pada 7 Oktober 2023 dan bahwa ia telah menghindari tanggung jawab atas peristiwa tersebut.
Berikut daftar partai-partai utama yang memperebutkan kursi di Knesset.
Likud
Likud (Penyatuan) merupakan partai sayap kanan utama Israel sekaligus partai yang dipimpin Netanyahu.
Partai ini menarik dukungan dari pemilih kelas pekerja dan pemilih Yahudi yang secara tradisional religius.
Dalam pemilu terakhir pada 2022, Likud meraih hampir seperempat dari total suara.
Untuk membentuk koalisi pemerintahan, Netanyahu menggabungkan Likud dengan partai-partai sayap kanan dan ultra-Ortodoks.
Langkah ini menghasilkan salah satu pemerintahan paling kanan dalam beberapa dekade terakhir.
Ideologi partai ini memadukan nasionalisme dengan kebijakan ekonomi liberal.
Otzma Yehudit
Partai sayap kanan jauh Otzma Yehudit (Kekuatan Yahudi) menunjukkan performa kuat dalam pemilu terakhir.
Partai ini meraih 14 kursi setelah bergabung dengan Partai Zionis Religius dan faksi sayap kanan jauh Noam.
Pemimpinnya, Itamar Ben-Gvir, yang dikenal berhaluan keras, menjabat sebagai menteri keamanan nasional dan mengawasi kepolisian.
Sebagai politikus ultranasionalis, Ben-Gvir telah beberapa kali ditangkap karena hasutan dan dukungan terhadap terorisme.


0 Response to "Tak sejalan dengan Trump, Wapres AS JD Vance tolak dukung Netanyahu dalam pemilu Israel mendatang"
Posting Komentar